UMK NewsKetika kita meminta AI membuat gambar, menjawab pertanyaan, atau menerjemahkan bahasa, hasilnya sering terasa ajaib. Namun sebenarnya, di balik semua kecanggihan tersebut, AI tidak bekerja dengan sihir. AI bekerja dengan matematika.

Setiap hari kita berinteraksi dengan AI tanpa sadar. Saat membuka media sosial dan menemukan rekomendasi video yang sesuai dengan minat kita, ketika ponsel dapat mengenali wajah untuk membuka kunci layar, atau saat chatbot mampu menjawab pertanyaan dengan cepat. Semua itu terjadi karena AI melakukan jutaan perhitungan matematika dalam hitungan detik.

Sebagai contoh, saat AI mengenali wajah pada sebuah foto, komputer tidak melihat mata, hidung, atau mulut seperti manusia. AI melihat gambar sebagai kumpulan angka yang kemudian diolah menggunakan konsep matriks dan vektor dalam aljabar linear. Bahkan operasi sederhana seperti:

Y = AX + B

menjadi dasar bagaimana AI mengolah informasi dari satu tahap ke tahap berikutnya.

Selain itu, AI juga menggunakan probabilitas untuk membuat prediksi. Misalnya ketika chatbot menyusun kalimat, AI menghitung kemungkinan kata mana yang paling tepat untuk muncul berikutnya. Secara sederhana, AI memilih kata dengan nilai peluang tertinggi berdasarkan data yang telah dipelajarinya.

AI juga belajar dari kesalahan menggunakan konsep kalkulus. Saat hasil yang diberikan belum sesuai, sistem menghitung tingkat kesalahan, lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit melalui proses yang dikenal sebagai gradient descent. Dengan cara inilah AI dapat terus berkembang dan menghasilkan jawaban yang semakin akurat.

Menariknya, konsep matematika yang sering dianggap sulit di kelas ternyata menjadi fondasi berbagai teknologi yang kita gunakan setiap hari. Matriks yang dipelajari di sekolah membantu AI mengenali gambar. Statistika digunakan untuk membaca pola perilaku pengguna. Probabilitas membantu AI membuat prediksi. Bahkan turunan dalam kalkulus digunakan untuk "mengajarkan" AI agar menjadi lebih pintar.

Karena itu, matematika sebenarnya bukan sekadar pelajaran tentang angka dan rumus. Matematika adalah cara berpikir logis untuk memecahkan masalah. Di era digital dan kecerdasan buatan seperti sekarang, kemampuan matematika justru semakin relevan karena menjadi bahasa utama teknologi masa depan.

Jadi, jika selama ini matematika terasa membingungkan, mungkin kita perlu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Rumus yang dipelajari hari ini bisa jadi merupakan dasar dari teknologi yang akan mengubah dunia esok hari. Siapa sangka, di balik AI yang sedang menjadi tren global, terdapat konsep-konsep matematika yang pernah kita temui di bangku sekolah?

AI mungkin terlihat cerdas, tetapi matematikalah yang mengajarkannya cara berpikir. ������

"Belajar matematika bukan hanya untuk mengerjakan soal, tetapi untuk memahami bagaimana masa depan dibangun.”

Oleh: Iva Fitri Lutfhiah (Mahasiswi Prodi PMTK UM Kuningan)