UMK News - Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat lintas negara memberikan ruang belajar bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan) untuk memahami penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia.

Dalam komunikasi sehari-hari, kedua bahasa tersebut dapat digunakan secara berdampingan. Pada situasi tertentu, penutur juga melakukan campur kode (code-mixing) dan alih kode (code-switching), bergantung pada konteks percakapan, lawan bicara, serta situasi komunikasi.

Fenomena tersebut menjadi contoh nyata penerapan kajian sosiolinguistik, salah satu bidang yang dipelajari mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah UM Kuningan. Melalui pengamatan langsung di Malaysia, mahasiswa dapat menghubungkan konsep yang dipelajari di ruang kuliah dengan praktik komunikasi yang berlangsung di tengah masyarakat.

Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat, termasuk bagaimana pilihan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan sosial, identitas penutur, serta konteks interaksi. Pengalaman lintas negara memberikan perspektif yang lebih luas mengenai dinamika penggunaan bahasa dalam lingkungan budaya yang berbeda.

Pembelajaran ini juga menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berkaitan dengan struktur, kosakata, dan tata bahasa. Bahasa menjadi bagian dari identitas budaya, sarana membangun hubungan sosial, sekaligus jembatan komunikasi antarmasyarakat.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan pemahaman kritis terhadap fenomena kebahasaan. Pengamatan langsung membantu mereka melihat bahwa teori sosiolinguistik tidak berhenti sebagai konsep akademik, tetapi hadir dalam percakapan dan interaksi sehari-hari.

Melalui pembelajaran yang menghubungkan teori dengan pengalaman nyata, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Universitas Muhammadiyah Kuningan mendorong mahasiswa untuk memperluas wawasan kebahasaan dan kebudayaan. Pengalaman lintas negara juga membuka perspektif bahwa kompetensi bahasa dapat menjadi bekal untuk memahami keberagaman sekaligus membangun komunikasi yang lebih baik.

Semangat “Berakar pada Budaya, Berkarya untuk Bangsa, dan Melangkah hingga Dunia” menjadi gambaran komitmen program studi dalam mengembangkan pembelajaran bahasa dan sastra yang tetap berpijak pada budaya, sekaligus terbuka terhadap pengalaman dan wawasan global. (tsa)