UMK News - Hidup di era ketika satu sentuhan jempol mampu membuka ratusan informasi dalam hitungan menit, Generasi Z dihadapkan pada sebuah ironi. Akses pengetahuan semakin luas, tetapi kedalaman berpikir justru terancam dangkal. Di tengah banjir konten yang tak pernah surut, Nayla Ainaika Aulia memilih berdiri di arus yang berbeda: mengajak Gen Z kembali ke buku.
Mahasiswa semester 6 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Muhammadiyah Kuningan itu baru saja meraih Peringkat 2 Duta Baca Kabupaten Kuningan tahun 2026. Di lingkungan kampus, ia juga aktif sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) PGSD. Namun bagi Nayla, gelar dan posisi bukanlah tujuan akhir. Literasi adalah misi yang ia perjuangkan.
“Literasi bukan cuma membaca. Literasi itu memahami, lalu menerapkan apa yang sudah kita baca dalam kehidupan,” ujarnya saat ditemui di sela aktivitas akademiknya.
Menurut Nayla, perubahan zaman yang begitu cepat menuntut generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penikmat konten. Media sosial memang menyediakan ruang informasi tanpa batas, tetapi tanpa kemampuan menyaring dan merefleksikan, informasi dapat berubah menjadi disinformasi.
Ia menekankan pentingnya literasi digital sebagai fondasi utama di era sekarang. Platform digital, kata dia, bukan musuh buku. Sebaliknya, keduanya dapat saling melengkapi jika digunakan secara bijak.
“Platform digital itu alat. Tinggal bagaimana kita menggunakannya, untuk belajar atau hanya sekadar lewat,” tegasnya.
Bagi Nayla, tantangan terbesar bukanlah kurangnya akses, melainkan rendahnya kesadaran untuk memperdalam pemahaman. Ia pun tidak menawarkan perubahan yang bombastis. Tidak perlu langsung menamatkan buku tebal dalam semalam. Langkah kecil, menurutnya, jauh lebih realistis dan berdampak.
“Mulai saja dari satu halaman sehari. Baca yang kita suka. Lalu renungkan. Perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang konsisten,” katanya.
Di tengah derasnya arus digital, ajakan itu terdengar sederhana, namun justru relevan. Ketika banyak orang sibuk mengejar viralitas dan kecepatan, Nayla mengingatkan pentingnya kualitas berpikir. Masa depan Gen Z, menurutnya, bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat mereka mengakses informasi, tetapi seberapa dalam mereka memahaminya.
Di Kabupaten Kuningan, pesan tersebut kini menggema lebih kuat. Kembali ke buku, bagi Nayla, bukan berarti meninggalkan teknologi. Melainkan menghadirkan keseimbangan—agar generasi muda tidak sekadar terhubung, tetapi juga tercerahkan. (tsa)

