UMK News - Dosen Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan), Dr. Dicky Reva Apriana Sanga Dwi, M.Pd., menyatakan dukungannya kepada Joko Santoso dalam pencalonan Ketua Pengurus Besar Ju-Jitsu Indonesia (PBJI) Jawa Barat periode 2026–2030.
Dicky merupakan akademisi sekaligus praktisi olahraga yang aktif dalam bidang kepelatihan dan pembinaan atlet. Pengalamannya mencakup keterlibatan dalam sejumlah ajang olahraga di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.
Ia pernah dipercaya menjadi pelatih Tim PORPROV Kabupaten Kuningan dan pelatih kontingen Jawa Barat pada PON XXI Aceh–Sumatera Utara 2024. Dicky juga tercatat sebagai pelatih Tim Nasional Ju-Jitsu Indonesia untuk SEA Games Thailand serta menjabat Sekretaris Pengurus Besar Ju-Jitsu Indonesia Kabupaten Kuningan.
Berbekal pengalaman tersebut, Dicky menilai kepemimpinan organisasi olahraga membutuhkan kemampuan membangun komunikasi dan kolaborasi antara atlet, pelatih, pengurus, serta berbagai pemangku kepentingan. Menurutnya, sinergi antarelemen menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat organisasi dan meningkatkan kualitas pembinaan atlet.
Atas pertimbangan itu, Dicky menyampaikan dukungannya kepada Joko Santoso untuk memimpin PBJI Jawa Barat pada periode mendatang. Ia berharap kepemimpinan baru dapat memperkuat organisasi sekaligus mendorong peningkatan prestasi Ju-Jitsu Jawa Barat.
“Ju-Jitsu Jawa Barat membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh potensi yang dimiliki, mulai dari atlet, pelatih, pengurus, hingga stakeholder olahraga lainnya. Saya melihat Bapak Joko Santoso memiliki komitmen yang kuat untuk membawa PBJI Jawa Barat menjadi organisasi yang semakin profesional, solid, dan berprestasi. Oleh karena itu, saya memberikan dukungan penuh kepada beliau untuk memimpin PBJI Jawa Barat periode 2026–2030,” ungkap Dicky.
Selain kepemimpinan organisasi, Dicky menyoroti pentingnya penguatan sistem pembinaan atlet secara berkelanjutan. Ia berharap perhatian terhadap pembinaan atlet usia dini, peningkatan kompetensi pelatih dan wasit, serta pemanfaatan sport science dapat menjadi bagian dari pengembangan Ju-Jitsu di Jawa Barat.
Pandangan tersebut berkaitan dengan bidang keilmuan yang digelutinya sebagai dosen PJKR UM Kuningan. Pendidikan jasmani dan olahraga tidak hanya berkaitan dengan keterampilan fisik, tetapi juga mencakup pengembangan metode latihan, pembinaan prestasi, dan penerapan ilmu pengetahuan untuk mendukung performa atlet.
Dicky juga berharap pembinaan yang terarah dapat membuka peluang bagi atlet Ju-Jitsu Jawa Barat untuk meningkatkan daya saing pada berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pernyataan dukungan tersebut menjadi bagian dari dinamika pencalonan Ketua PBJI Jawa Barat periode 2026–2030. Aspirasi dari kalangan akademisi dan praktisi olahraga turut memperlihatkan perhatian terhadap arah kepemimpinan serta keberlanjutan pembinaan Ju-Jitsu di daerah.
Bagi Dicky, penguatan organisasi perlu berjalan seiring dengan pembinaan atlet dan pengembangan sumber daya manusia. Kolaborasi antara pengurus, pelatih, atlet, akademisi, dan pemangku kepentingan diharapkan dapat menjadi fondasi bagi sistem pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

