UMK News - Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) mulai membuka ruang baru dalam pengembangan pembelajaran anak usia dini. Untuk memperkuat literasi dan keterampilan digital pendidik, guru Raudhatul Athfal (RA) di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, mengikuti pelatihan pemanfaatan AI yang digelar tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan), Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di RA Bani Usman tersebut mengusung tema “Pemberdayaan Guru PAUD melalui Literasi Kecerdasan Artifisial untuk Pembelajaran Digital Adaptif Berbasis Bermain”. Program ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) 2026.
Pelatihan difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan AI untuk merancang pembelajaran yang kreatif, adaptif, dan tetap sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai konsep AI, tetapi juga diajak mempraktikkan penggunaannya dalam menyiapkan berbagai perangkat dan media pembelajaran.
Ketua tim PkM UM Kuningan, Ahmad Fajri Lutfi, M.Kom., mengatakan perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari sehingga pendidik perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi sekaligus memahami cara memanfaatkannya secara bijak.
“Teknologi akan terus berkembang, termasuk dalam dunia pendidikan. AI bukan untuk menggantikan guru, tetapi menjadi asisten yang membantu guru menemukan ide, menyusun perangkat pembelajaran, dan membuat media yang lebih menarik,” kata Ahmad.
Menurutnya, pemanfaatan AI dalam pendidikan anak usia dini tetap harus menempatkan guru sebagai aktor utama. Teknologi hanya menjadi alat bantu, sementara keputusan mengenai kesesuaian materi dan aktivitas pembelajaran tetap berada di tangan pendidik.
“Produk yang dihasilkan AI tetap harus diperiksa dan disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan anak usia dini,” ujarnya.
Guru Langsung Praktik Menggunakan AI
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan sejumlah platform AI, di antaranya ChatGPT, Canva AI, dan Bing AI. Para guru tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi langsung mencoba menggunakan teknologi tersebut untuk kebutuhan pembelajaran.
Melalui ChatGPT, peserta dilatih menyusun prompt yang efektif untuk membantu menghasilkan ide kegiatan pembelajaran sekaligus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dengan pendekatan saintifik.
Guru diarahkan agar tidak sekadar menyalin hasil yang diberikan AI. Mereka juga belajar memberikan instruksi yang lebih spesifik berdasarkan tema pembelajaran, usia, tahap perkembangan, dan kebutuhan anak.
Anggota tim PkM UM Kuningan, Dr. Ricki Yuliardi, M.Pd., mengatakan AI dapat dimanfaatkan untuk membantu guru mengembangkan RPPH yang tidak hanya lengkap dari sisi administratif, tetapi juga mampu memberikan stimulasi yang sesuai bagi perkembangan anak.
“Guru dapat mengembangkan ide kegiatan bermain yang lebih variatif dan kontekstual, kemudian menyesuaikannya dengan usia serta tahap perkembangan anak,” kata Ricki.
Ia menjelaskan, pendekatan saintifik dapat mendorong anak melakukan aktivitas 5M, yakni mengamati, menanya, mencoba atau mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan.
“AI menjadi alat bantu bagi guru untuk menciptakan pengalaman belajar yang mendorong anak aktif mengamati, bertanya, mencoba, berpikir, dan menyampaikan apa yang mereka temukan,” jelasnya.
Sementara itu, Nika Cahyati, M.Pd., memfasilitasi sesi praktik pemanfaatan Canva AI dan Bing AI. Dalam sesi tersebut, para peserta diajak membuat berbagai media pembelajaran digital, mulai dari bahan ajar visual, ilustrasi, lembar kerja peserta didik (LKPD), hingga video pembelajaran.
Antusiasme peserta terlihat selama sesi praktik berlangsung. Para guru secara langsung mencoba membuat perangkat dan media pembelajaran dengan memanfaatkan platform AI yang diperkenalkan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai tantangan dan peluang pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran PAUD. Para peserta dapat mendiskusikan pengalaman mereka sekaligus memperoleh pendampingan ketika mengalami kendala dalam menggunakan berbagai platform AI.
Salah seorang peserta mengaku memperoleh pengalaman baru karena pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan praktik.
“Kami tidak hanya mendapatkan materi tentang AI, tetapi langsung praktik membuat RPPH, bahan ajar, LKPD, dan video pembelajaran. Sebelumnya kami masih bingung menggunakan ChatGPT dan Canva AI, tetapi setelah mengikuti kegiatan ini kami lebih memahami cara menggunakannya untuk membantu pekerjaan sebagai guru,” ujarnya.
Peserta lainnya menilai AI dapat membantu guru menyiapkan pembelajaran secara lebih cepat dan kreatif. Namun, ia menyadari bahwa hasil yang dihasilkan teknologi tersebut tetap membutuhkan pemeriksaan dan penyesuaian sebelum diterapkan kepada anak.
“Saya mendapat pengalaman baru bahwa AI bisa membantu guru menyiapkan pembelajaran dengan lebih cepat dan kreatif. Hasil dari AI tetap harus kita periksa dan sesuaikan dengan kondisi anak,” katanya.
Libatkan Mahasiswa dalam Transformasi Digital Pendidikan
Kegiatan PkM tersebut turut melibatkan dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) UM Kuningan, yakni Muhammad Gibran Hizbullah dan Mila Mailani Hasanah.
Keduanya membantu pelaksanaan kegiatan, terutama dalam aspek teknis, pendampingan peserta, serta praktik penggunaan berbagai platform AI. Kehadiran mahasiswa turut membantu memastikan para peserta dapat mengikuti sesi praktik dengan lebih optimal.
Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian dari pembelajaran langsung untuk menerapkan kompetensi teknologi yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pengalaman tersebut sekaligus mempertemukan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi dengan kebutuhan transformasi digital dalam dunia pendidikan PAUD.
Melalui kegiatan ini, tim PkM UM Kuningan berharap literasi dan keterampilan digital para guru RA di Kecamatan Darma semakin meningkat. Pemanfaatan AI diharapkan tidak hanya membantu efisiensi dalam penyusunan perangkat pembelajaran, tetapi juga membuka ruang bagi guru untuk menghasilkan media yang lebih kreatif, kontekstual, dan menarik.
Meski demikian, teknologi tetap ditempatkan sebagai alat bantu. Guru tetap menjadi pihak yang menentukan tujuan, metode, materi, serta kesesuaian aktivitas pembelajaran dengan karakteristik setiap anak.
Pada akhirnya, pemanfaatan AI diharapkan mampu memperkuat pembelajaran PAUD tanpa menghilangkan prinsip dasarnya, yakni belajar melalui bermain, menyenangkan, berpusat pada anak, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pendidik, dan mahasiswa, UM Kuningan terus mendorong agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak untuk menghadirkan pembelajaran yang semakin adaptif dan bermakna bagi generasi usia dini. (tsa)

