UMK News - KUNINGAN — Kotoran sapi perah yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah mulai dikenalkan sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Akademisi Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan) mendorong pengurus dan anggota Koperasi Karya Nugraha Jaya Kuningan untuk mengembangkan pengelolaan kotoran sapi perah menjadi pupuk organik.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berlangsung di Koperasi Karya Nugraha Jaya pada Jumat (7/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari hilirisasi hasil penelitian mengenai pengolahan feses sapi perah yang dikembangkan oleh tim akademisi UM Kuningan.
Kegiatan dipimpin Ari Abdulah Safari, M.Pt., dosen Program Studi Peternakan UM Kuningan, sebagai ketua pelaksana. Ia didampingi Choirul Badriah, S.Pt., M.Si., dosen Program Studi Peternakan; Linda Ade Rahmawati, S.Pd., M.M., dosen Program Studi Manajemen; serta M. Dikra Pamungkas, mahasiswa Program Studi Peternakan.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah pemanfaatan daun kirinyuh sebagai sumber karbon dalam proses pengolahan kotoran sapi perah. Melalui proses tersebut, limbah peternakan diarahkan untuk menghasilkan pupuk organik cair (POC) dan pupuk organik padat (POP).
Ari mengatakan, kegiatan PkM tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengetahuan teknis kepada peternak, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap limbah peternakan.
“Kami ingin peternak melihat bahwa kotoran sapi perah bukan hanya persoalan yang harus dibuang, tetapi juga memiliki potensi untuk diolah dan memberikan manfaat. Karena itu, yang kami dorong bukan hanya pemahaman teknis, tetapi juga munculnya minat dan kemauan untuk mengelolanya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Ari, peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan minat anggota koperasi menjadi bagian penting agar pengolahan kotoran sapi perah dapat berkembang menjadi kegiatan produktif. Pemanfaatan hasil olahan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peternak, koperasi, sekaligus lingkungan.
Ia juga menargetkan kegiatan serupa dapat dilanjutkan dengan melibatkan lebih banyak anggota koperasi. Dengan demikian, semakin banyak peternak yang memiliki kemampuan untuk mengelola kotoran sapi perah secara efektif dan efisien.
Pengabdian tersebut juga tidak berhenti pada aspek pengolahan. Tim memberikan materi mengenai manajemen operasional dan pemasaran agar produk yang dihasilkan memiliki pengelolaan yang lebih terarah.
Peserta dikenalkan dengan alur produksi, pembagian tugas, pengendalian kualitas, pencatatan produksi, hingga strategi pemasaran sederhana melalui media sosial dan marketplace.
Keterlibatan dosen dari bidang peternakan dan manajemen menjadi bagian dari pendekatan yang digunakan dalam kegiatan tersebut. Aspek teknis pengolahan limbah dipadukan dengan pengetahuan mengenai pengelolaan usaha dan pemasaran produk.
Ari berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal bagi anggota koperasi untuk mengembangkan proses pengolahan secara mandiri. Dengan kemampuan yang dibangun melalui pelatihan, pengelolaan kotoran sapi perah diharapkan tidak berhenti sebagai upaya mengurangi limbah, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas produktif yang memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan PkM tersebut terlaksana melalui dukungan hibah Pengabdian kepada Masyarakat Pemula dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (DPPM Kemdiktisaintek).

