UMK News - Malang, 28 Juli 2026 — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, menyoroti dua persoalan utama yang kerap menjadi penghambat kemajuan ekonomi masyarakat desa, yakni kurangnya kesadaran terhadap potensi lokal serta rendahnya literasi keuangan. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Pelepasan KKN Muhammadiyah–’Aisyiyah (KKN MAS) 2026 yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Dalam arahannya, Irwan Akib menegaskan bahwa desa sejatinya memiliki potensi ekonomi yang besar, mulai dari sumber daya alam hingga sektor pertanian. Namun, potensi tersebut sering kali belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya kesadaran dan wawasan masyarakat.
“Masyarakat desa sebenarnya memiliki potensi besar—sawah, ladang, dan sumber daya lainnya. Tapi sering kali potensi itu tidak disadari. Di sinilah peran mahasiswa hadir untuk membuka wawasan, bukan menggurui, melainkan berdiskusi dan menyelami kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran mahasiswa melalui program KKN harus mampu menjadi jembatan dalam menggali dan mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.
Selain itu, Irwan juga menyoroti persoalan krusial lain, yakni rendahnya literasi keuangan masyarakat desa. Menurutnya, pola pengelolaan keuangan yang belum tepat sering membuat hasil panen yang melimpah tidak memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan.
“Saat panen, penghasilan meningkat, tetapi sering habis untuk konsumsi yang tidak produktif. Ini masalah pengelolaan keuangan. Bagaimana hasil itu bisa dikelola agar berdampak pada keberlanjutan ekonomi mereka,” jelasnya.
Dalam konteks pendidikan, Irwan menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu mengambil alih peran guru di sekolah. Sebaliknya, mahasiswa dapat berkontribusi dengan membuka ruang-ruang literasi di masyarakat, seperti melalui masjid atau pusat kegiatan warga lainnya.
Sementara itu, terkait digitalisasi, ia mengingatkan bahwa tantangan utama bukan sekadar akses terhadap teknologi, melainkan bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan perangkat digital secara bijak dan produktif. Media sosial, yang kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat desa, perlu diarahkan agar memberikan dampak positif.
“Media sosial bukan hal baru bagi masyarakat desa, tetapi pemanfaatannya perlu diarahkan. Mahasiswa harus hadir untuk memberikan literasi digital agar generasi muda tetap berkembang secara optimal,” ungkapnya.
Melalui tiga fokus utama KKN MAS 2026—ekonomi, pendidikan, dan digitalisasi—Irwan Akib berharap mahasiswa Muhammadiyah dapat berperan aktif dalam mendorong perubahan nyata di tengah masyarakat. Kehadiran mereka diharapkan tidak hanya memberikan solusi jangka pendek, tetapi juga membangun kesadaran dan kemandirian masyarakat desa dalam menghadapi tantangan masa depan. (tsa)

