UMK News - Upaya menjaga bahasa dan budaya Sunda terus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan) turut berkontribusi dalam kegiatan Rampak Ki Sunda yang mengusung tema “Nyurupkeun Ajen Ki Sunda ku Ngamumule Basana” di Kabupaten Kuningan, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya Sunda. Beragam bentuk ekspresi budaya dihadirkan dalam kegiatan ini, mulai dari pasanggiri tembang, sisindiran, maca sajak, nulis carpon, aksara Sunda, biantara, hingga pupuh yang melibatkan peserta tingkat SMA/SMK.

Bagi UM Kuningan, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan warisan masa lalu, tetapi juga bagaimana nilai-nilai budaya dapat terus dikenalkan kepada generasi muda dan ditempatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi generasi muda, penggunaan bahasa Sunda menghadapi tantangan untuk tetap hidup dan digunakan secara berkelanjutan.

Melalui Rampak Ki Sunda, generasi muda mendapatkan ruang untuk mengenal bahasa Sunda melalui cara yang kreatif. Kompetisi dan kegiatan seni menjadi media pembelajaran yang memungkinkan peserta tidak hanya memahami bahasa, tetapi juga menggunakannya dalam bentuk karya dan ekspresi budaya.

Berbagai kategori yang dihadirkan menunjukkan bahwa bahasa Sunda memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan. Tembang, sisindiran, sajak, carpon, aksara Sunda, biantara, dan pupuh menjadi bagian dari kekayaan bahasa sekaligus kesenian yang dapat terus diwariskan.

Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budaya. Kecintaan terhadap budaya daerah tidak cukup hanya dengan mengenalnya, tetapi perlu diwujudkan melalui penggunaan, pembelajaran, kreativitas, dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan kebudayaan.

Dalam konteks pendidikan tinggi, kolaborasi semacam ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat. UM Kuningan tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga berupaya mengambil peran dalam menjaga identitas budaya lokal yang menjadi bagian dari kekayaan masyarakat Kuningan dan Jawa Barat

Semangat tersebut sejalan dengan upaya membangun generasi muda yang memiliki wawasan luas tanpa kehilangan akar budaya. Kemajuan teknologi dan keterbukaan terhadap dunia tidak harus membuat generasi muda meninggalkan bahasa serta budaya daerahnya.

Sebaliknya, budaya lokal dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus identitas yang memperkuat karakter generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.

Melalui kegiatan Rampak Ki Sunda, UM Kuningan menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Sunda. Pelestarian tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi membutuhkan keterlibatan lembaga pendidikan, masyarakat, generasi muda, dan berbagai pemangku kepentingan.

Dari bahasa yang digunakan hingga karya yang dihasilkan, budaya Sunda dapat terus hidup ketika diwariskan, dipelajari, dan digunakan oleh generasi berikutnya. (tsa)