UMK News - Keimanan tidak berhenti pada keyakinan dan ucapan, tetapi perlu tercermin dalam sikap serta tindakan nyata. Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang digelar Tapak Suci Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan) di Padepokan Tapak Suci UM Kuningan, Rabu (21/10/2026).
Mengangkat tema “Keimanan dan Kemanusiaan”, kajian tersebut menghadirkan Agung Saputra, S.Pd., M.Pd., K.Mdy. sebagai pemateri. Kegiatan menjadi ruang bagi anggota Tapak Suci untuk memperdalam pemahaman mengenai keterkaitan antara keimanan, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam pemaparannya, Agung menjelaskan bahwa keimanan perlu diwujudkan melalui perilaku yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, serta kemampuan menghargai orang lain menjadi bagian dari bagaimana nilai keimanan hadir dalam kehidupan sehari-hari.
“Keimanan bukan hanya tentang apa yang kita yakini dan ucapkan, tetapi juga bagaimana kita mewujudkannya melalui perilaku sehari-hari. Kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dari pengamalan nilai-nilai keimanan,” ujarnya.
Pembahasan kemudian diarahkan pada dimensi kemanusiaan. Peserta diajak melihat bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan sikap saling menghormati, menjaga martabat manusia, serta menjunjung keadilan tanpa membedakan latar belakang seseorang.
Kepedulian terhadap sesama, menurut materi kajian, dapat dimulai dari tindakan sederhana. Membantu orang yang membutuhkan, menghargai perbedaan pendapat, menjaga persaudaraan, serta menghindari perundungan dan diskriminasi merupakan bentuk nyata kepedulian yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, hubungan manusia dengan Allah Swt. (hablum minallah) memiliki keterkaitan erat dengan hubungan antarmanusia (hablum minannas). Nilai keislaman karena itu tidak hanya diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga melalui tindakan yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Prinsip tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bidang, mulai dari kegiatan sosial, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pengabdian kepada masyarakat. Keimanan menjadi landasan moral, sementara kepedulian terhadap manusia menjadi salah satu bentuk nyata pengamalannya.
Nilai-nilai tersebut juga relevan dalam kehidupan organisasi. Sebagai bagian dari organisasi mahasiswa, anggota Tapak Suci diharapkan mampu menjaga amanah, membangun kejujuran, menghormati sesama anggota, serta mengembangkan kerja sama yang sehat.
“Nilai-nilai keimanan perlu diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Ketika seseorang mampu menjaga amanah, menghargai orang lain, dan memberikan manfaat bagi lingkungannya, di situlah nilai kemanusiaan menjadi bagian dari pengamalan ajaran Islam,” pesannya.
Kegiatan berlangsung melalui rangkaian pembukaan, penyampaian materi, dan sesi tanya jawab. Diskusi memberikan ruang bagi peserta untuk mengaitkan nilai-nilai yang dibahas dengan kehidupan sehari-hari maupun dinamika dalam organisasi.
Kajian kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.
Bagi Tapak Suci UM Kuningan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter anggota yang tidak hanya memiliki kemampuan dalam bidang bela diri, tetapi juga memiliki landasan keislaman, akhlak, dan kepedulian sosial.
Melalui kajian AIK, nilai-nilai keimanan diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan tumbuh menjadi sikap yang tercermin dalam cara berinteraksi, menjalankan amanah, menghargai sesama, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Pada akhirnya, keimanan dan kemanusiaan bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya bertemu dalam tindakan nyata—ketika keyakinan melahirkan akhlak dan kepedulian, serta ketika ilmu dan nilai keislaman diwujudkan untuk memberikan manfaat bagi sesama. (tsa)

