UMK News - Oleh: Mimif Miftahul Huda, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika UM Kuningan
Banyak orang menganggap matematika hanya sebatas angka, rumus, dan soal-soal yang memenuhi halaman buku. Padahal, jika diperhatikan lebih dekat, berbagai kebiasaan yang kita lakukan setiap hari justru memiliki pola yang menarik untuk dikaitkan dengan konsep matematika.
Mulai dari anak-anak, generasi muda, hingga orang tua, semuanya memiliki perilaku yang kadang terlihat acak. Namun, di balik kebiasaan tersebut, ada pola yang sebenarnya cukup menarik untuk dicermati.
Salah satu contohnya adalah ketika kehilangan barang. Hampir semua orang pernah panik mencari benda yang sebenarnya berada tidak jauh dari tempatnya.
Anak-anak sibuk mencari mainan yang ternyata disembunyikan adiknya. Generasi muda membongkar isi kamar demi mencari telepon genggam yang ternyata masih berada di tangannya. Sementara itu, orang tua bisa berkeliling rumah mencari kacamata yang ternyata masih bertengger di atas kepala.
Fenomena sederhana tersebut dapat mengingatkan kita pada konsep peluang, yaitu kemungkinan terjadinya suatu peristiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, benda yang dicari justru sering ditemukan di tempat yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Lima Menit yang Berubah Menjadi Satu Jam
Fenomena lain yang tidak kalah akrab adalah kebiasaan menghabiskan waktu di media sosial.
Hampir semua orang pernah mengatakan, “Cuma lima menit.” Namun, lima menit tersebut sering berubah menjadi tiga puluh menit, satu jam, bahkan tanpa terasa sudah melewati tengah malam.
Kebiasaan ini dapat dianalogikan dengan pertumbuhan yang semakin besar seiring waktu. Awalnya hanya membuka satu video atau satu unggahan, kemudian berlanjut ke konten berikutnya, lalu muncul lagi konten lain yang dianggap menarik.
Tanpa disadari, waktu terus berjalan sementara perhatian semakin terserap oleh berbagai konten di layar. Lima menit yang direncanakan akhirnya bisa berubah menjadi waktu yang jauh lebih panjang.
Mendengar Suara, Langsung Bergerak
Ada pula respons spontan ketika mendengar suara tertentu.
Anak-anak bisa langsung berlari ketika mendengar suara penjual es krim. Generasi muda tiba-tiba bersemangat ketika mendengar kurir memanggil dari depan rumah. Sementara itu, orang tua mungkin lebih sigap ketika mendengar suara pedagang makanan langganan.
Jika dilihat dari sudut pandang sederhana, ada hubungan antara sesuatu yang dianggap menarik dengan respons seseorang terhadapnya. Semakin kuat ketertarikan terhadap sesuatu, semakin cepat pula seseorang memberikan respons.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa rasa tertarik dapat menjadi pendorong seseorang untuk bergerak. Bahkan, dalam situasi tertentu, motivasi bisa mengalahkan rasa malas yang sebelumnya muncul.
Rebahan dan Hukum Inersia
Kebiasaan berikutnya yang seolah dimiliki semua generasi adalah rebahan.
Anak-anak mungkin enggan belajar, tetapi bisa betah berbaring sambil bermain gim selama berjam-jam. Generasi muda bahkan terkadang baru bangun tidur sudah memikirkan kapan bisa kembali tidur. Sementara itu, orang tua tidak jarang tertidur di depan televisi dengan remote masih berada di tangan.
Jika dianalogikan dengan konsep fisika, kondisi tersebut mengingatkan pada hukum inersia, yaitu kecenderungan suatu benda mempertahankan keadaan geraknya. Dalam kehidupan sehari-hari, posisi yang sudah nyaman memang sering membuat seseorang enggan beranjak.
Semakin nyaman posisi rebahan, semakin berat rasanya untuk memulai aktivitas berikutnya. Dari yang awalnya hanya ingin beristirahat sebentar, akhirnya bisa berubah menjadi sesi rebahan yang panjang.
Grup WhatsApp Keluarga yang Tak Pernah Sepi
Fenomena terakhir yang tidak kalah menarik adalah aktivitas di grup WhatsApp keluarga.
Jumlah pesan yang terus bertambah terkadang membuat seseorang menyerah untuk membaca semuanya. Anak-anak mungkin memilih mengabaikannya, generasi muda hanya melihat angka notifikasi yang terus meningkat, sedangkan orang tua justru bisa menjadi salah satu anggota yang paling aktif mengirim pesan.
Jika dianalogikan dengan matematika, aliran pesan tersebut dapat dibayangkan seperti deret yang terus bertambah. Satu pesan memunculkan balasan, balasan menghasilkan tanggapan baru, kemudian muncul pesan lain yang kembali memicu percakapan.
Akibatnya, informasi yang benar-benar penting terkadang justru tenggelam di antara berbagai pesan lainnya.
Matematika Ada di Sekitar Kita
Berbagai kebiasaan yang selama ini dianggap sekadar “random” ternyata dapat menjadi cara sederhana untuk melihat konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Kehilangan barang dapat dikaitkan dengan peluang. Kebiasaan berlama-lama di media sosial dapat menjadi gambaran tentang pertumbuhan yang semakin cepat. Respons terhadap suara tertentu menunjukkan bagaimana ketertarikan memengaruhi tindakan. Kebiasaan rebahan dapat dianalogikan dengan inersia, sedangkan percakapan panjang di grup WhatsApp mengingatkan kita pada pola yang terus bertambah.
Tentu saja, analogi tersebut bukan berarti setiap perilaku manusia dapat dijelaskan secara matematis secara langsung. Namun, dari kebiasaan-kebiasaan sederhana itu kita bisa melihat bahwa matematika tidak selalu hadir dalam bentuk angka dan rumus.
Mungkin yang selama ini kita anggap sebagai perilaku acak sebenarnya hanyalah pola yang belum kita sadari.
Jadi, ketika ada yang mengatakan kita terlalu lama bermain ponsel, sering lupa meletakkan barang, atau terlalu betah rebahan, mungkin kita bisa menjawab sambil tersenyum, “Bukan sekadar kebiasaan, mungkin saja matematika sedang bekerja di sekitar kita.”

