UMK NewsUpaya meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang rekam medis terus dilakukan oleh Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK), Fakultas Farmasi, Kesehatan, dan Sains (FFKS) Universitas Muhammadiyah Kuningan. Salah satunya melalui kegiatan edukatif bertajuk Edustory yang mengangkat pembelajaran kodifikasi dan klasifikasi penyakit sistem muskuloskeletal.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami secara mendalam proses penentuan kode diagnosis berdasarkan standar internasional ICD-10. Studi kasus yang diangkat adalah Osteoarthritis Lutut atau Gonarthrosis, salah satu penyakit degeneratif yang sering dijumpai dalam pelayanan kesehatan.

Melalui pendekatan berbasis kasus, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga praktik langsung dalam menentukan kode diagnosis. Proses pembelajaran dimulai dari penelusuran Indeks Alfabetis pada Volume 3 ICD-10, hingga tahap verifikasi pada Tabular List Volume 1 ICD-10.

Dosen pengampu menjelaskan bahwa ketepatan dalam kodifikasi dan klasifikasi penyakit merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang Perekam Medis dan Informasi Kesehatan. Kesalahan dalam penentuan kode tidak hanya berdampak pada kualitas data, tetapi juga berpengaruh pada pelaporan rumah sakit, statistik kesehatan, hingga proses klaim pembiayaan layanan kesehatan.

“Data kesehatan yang akurat berawal dari kode yang tepat. Dari data itulah berbagai keputusan strategis di bidang kesehatan dapat diambil,” ungkapnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Prodi D3 RMIK UM Kuningan dalam mencetak tenaga kesehatan yang profesional dan siap menghadapi tantangan era digitalisasi sistem kesehatan. Mahasiswa dibekali kemampuan tidak hanya dalam pengelolaan rekam medis, tetapi juga dalam manajemen informasi kesehatan berbasis teknologi.

Selain itu, pembelajaran ini juga menegaskan pentingnya peran tenaga rekam medis dalam mendukung transformasi layanan kesehatan berbasis data. Data yang akurat dan terstandar menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta pengambilan kebijakan di sektor kesehatan.

Program Studi D3 RMIK FFKS UM Kuningan sendiri terus mengembangkan kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. Didukung oleh tenaga pengajar yang kompeten dan praktisi berpengalaman, mahasiswa dipersiapkan untuk memiliki peluang karier yang luas, mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga sektor industri kesehatan digital.

Dengan pendekatan pembelajaran yang aplikatif dan berbasis kebutuhan lapangan, UM Kuningan optimistis mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas sistem informasi kesehatan di Indonesia.

Melalui kegiatan seperti Edustory ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa ketepatan dalam setiap kode diagnosis bukan sekadar angka, melainkan kunci penting dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berdaya guna bagi masyarakat. (tsa)